Label

Label

Senin, 18 Januari 2021

Ampas Malam Dalam Segelas Cokelat

Ampas Malam Dalam Segelas Cokelat

View Article

Ampas Malam Dalam Segelas Cokelat


Aku Inggit. Hari ini aku akan membagikan tutorial patah hati yang elegan. Penasaran kan? Let's join me!


Firstly,  kamu harus tampakkan bahwa kamu baik-baik saja. Ya, misalkan nih kamu lagi keluar rumah dan melihat doi sedang nongkrong. Eh ternyata dia menyadari keberadaanmu yang kaya bidadari jatuh dari surga, dan dia melihat ke arahmu, maka kamu harus menunjukkan wajah terbaikmu. Berusahalah seceria mungkin. Aku sering melakukan ekting semacam ini di depan seseorang yang katakankanlah mantan. Tapi dia bukan mantan kekasihku, dia hanya mantan orang yang aku suka, yang tidak pernah tahu perasaanku.


Jadi ceritanya begini, dia itu sahabatku. Sebut saja Mas CKI, Cowok Keren Idaman. Kami telah melewati banyak waktu bersama. Saling timpal ejekan pun sudah biasa, yang tidak biasa itu adalah saat suatu ketika di sore hari aku melihat dirinya dalam sebentuk bayangan yang menarik diri dan menjauh dariku. Ketika itu aku sadar, aku telah kehilangan dirinya. Yah waktu dan jarak telah mengambil dirinya dariku. Padahal kudengar seorang penyair pernah bilang bahwa jarak tidak dapat memutus sebuah ikatan. Kadang-kadang aku berpikir, mungkin ikatan kami saja yang terlalu rapuh. 


Dan kamu tahu?, Ternyata perpisahan yang dilakukan seorang diri itu lebih menyakitkan dari ekspektasi apa pun. And I was do it.


Tapi tidak apa-apa, telah aku putuskan untuk mengenangnya tanpa rasa sakit. Toh, menurut siklus kita akan selalu bertemu dengan beberapa orang dalam satu waktu dan akan berpisah di waktu tertentu. Kemudian di masa depan kita bertemu lagi dengan orang baru, dan akhirnya pun begitu. Yah, sadar atau tidak perpisahan adalah rumah bagi sebuah pertemuan. 


Second, jangan ngeshare status-status galau. Kalau mau galau ya habiskan saja sendiri. Jangan berusaha membagikannya di story WhatsApp, Facebook, atau Instagram. Mending kamu pergi ke mall atau swalayan, beli snack yang bisa membuat moodmu lebih sedikit terkontrol. Yah kan walau bagaimana pun kamu juga butuh tenaga untuk galau dan mewek'-mewek sendirian di kamar. 


Kalau aku sih biasanya menuliskan surat tabula rasa. Tapi surat itu tidak pernah terkirim, karena sebenarnya aku hanya sedang berbicara dengan diriku sendiri perihal harapan, rindu, mimpi-mimpi yang berhubungan dengan perasaanku yang terpendam. Jadi Mas CKI tidak pernah tahu rahasiaku ini. Yang dia tahu adalah aku cewek absurd, baperan, dan terlalu dramatis. Terlalu asik menjalani peran sebagai orang lain.


Finally, give up! Move on! Jangan stuck dalam zona patah hati berkepanjangan. Jangan mau jadi Melea di real life. Jika kamu masih dilema antara bertahan atau tidak, padahal rasanya sudah toxic maka kamu harus segera membuat keputusan. Nih ya, lebih baik kamu salah dalam mengambil keputusan dari pada lebih lama berada dalam situasi yang membuatmu tidak nyaman.


"Inggit, angkatin  jemuran di belakang!" teriak Bunda dari luar.


"Terus Mas CKI sekarang dimana?" tulis seorang pengikutku di komentar.


"Oke guys, pertanyaannya aku jawab nanti, masih dipanggil Bunda tuh. Sudah dulu, byeee."


"Ngapain saja di kamar? Bunda panggil nggak nyaut," tegur Bunda saat aku melewati ruang tengah.


"Mana ada? Bundanya saja nggak dengar" kilahku sambil melipir keluar.


Ah mendung. Suasana menjadi sendu di bawah awan yang sepenuhnya kelabu. Sepertinya hujan akan segera turun. Di seberang, kulihat anak-anak berkejaran entah main apa atau mau menangkap apa. Tapi mereka tertawa sangat lepas. Membuatku sedikit iri, dan mendadak ingin minum cokelat hangat.


"Lho sekarang malah bengong," tegur Bunda yang melihat diriku duduk sambil lalu memangku pakaian.


"Kayanya Inggit lagi pengen minum cokelat hangat deh, Bun" jawabku tidak bersemangat.


"Persediaan cokelatnya habis, kalau mau kamu beli sendiri dulu ya. Bunda mau lipat pakaian," kemudian Bunda beranjak meninggalkan ruang tengah.


***


Aku merasa malam ini pikiranku sedang kacau. Di luar masih hujan. Napak tilas wajahnya diam-diam mengganggu. Aku suka kepikiran, kenapa tutorial yang aku buat untuk orang lain tidak pernah berlaku untuk diriku sendiri? 


"Bodo amat. Mending ngevlog." Jarum jam baru saja menunjuk angka sembilan. Artinya teman-teman onlineku belum tidur.


Hai guys, tadi siang tuh aku keluar buat beli cokelat dan kehujanan di tengah jalan. Berhubung tidak ada tempat untuk neduh aku mempercepat langkahku yang sebenarnya tidak bisa dikatakan cepat. Yah, aku tergesa-gesa gitu. Tidak terlalu memikirkan sekitar. Yang penting aku segara sampai ke rumah, soalnya hujan semakin deras. Kalau nggak cepat-cepat aku bisa basah kuyup.


Di sela-sela kepanikanku itu tiba-tiba aku merasa ada yang berusaha mengejarku. Beberapa kali terdengar manggil, cuma aku tidak menggubrisnya dan mempercepat langkah. "Inggit, ini aku Bagaskara!" teriaknya kemudian.


"Kara?" batinku, dan seketika aku membeku. Seolah-olah kepanikan demi kepanikan yang sebelumnya membadai luruh begitu saja.


"Terus apa yang terjadi setelahnya?" tanya Ani yang tahu-tahu merobos masuk tanpa salam ke kamar.


"Eh guys! Sudah dulu ya... ada Maklampir nih. Bye..!"


"Yah Inggit, padahal ceritanya belum selesai."


"Padahal kami kan penasaran."


"Oke tenang guys! Kita sambung lagi ceritanya nanti." Aku pun menyudahinya.


"Inggit, kamu kok gak cerita-cerita sih sama aku?" desak Ani yang sudah tidak sabar.


"Eh, kamu kok bisa sampai di sini dan tahu ceritaku?"


"Ya kebetulan saja aku tadi gabut, dan ada notif kamu lagi mengadakan siaran langsung. Ya sudah, aku ikuti."


"Hemmm, dasar tukang kepo. Emang di depan gak ada Bunda?


"Tuh Bunda" jawab Rani sambil menunjuk ke arah pintu yang tidak tertutup sempurna.


"Inggit, Rani, cokelatnya Bunda taro di meja," ucap Bunda memberitahu.


"Iya Bunda. Yuk!" ajakku pada Rani yang ngotot agar aku segera bercerita saja. Namun akhirnya anak mau dan ngekor di belakangku menuju ruang tengah.


Di hadapnku, Rani sibuk meniup-niup coklatnya. Aku justru merasa sedih memikirkan apa yang akan terjadi malam ini. Aku harus menghabiskannya bersama Rani. Ditemani segelas cokelat hangat buatan Bunda. Mengenang kenangan tentang Kara dengan orang lain. Aku tahu, setiap moment suatu waktu akan berubah menjadi kenangan, namun bukan akhir seperti ini yang aku mau. Aku ingin yang mengenang kenangan kita ya kita, Ra. Bukan dengan orang lain. Namun bagaimana harapan itu akan mendarat dengan selamat, sedang perasaanmu ratusan kilometer dariku. Begitu jauh. Begitu rumit. 


"Mmm, dia masih tinggal di sekitarku. Cuma segalanya sudah berubah," paparku menjawab keingintahuan Rani-Rani yang hidup dalam hidupku.


 Tuh kan, jadi mellow.


*Iin Zaidah


Jumat, 15 Januari 2021

O, Bapak

O, Bapak

View Article

 O, Bapak


lihat kalender yang menggantung di dinding dekat jendela

bukan untuk menagih janji

bukan pula soal uang jajan


teramat banyak yang ingin kukatakan

namun aku tak pandai menyampaikan

tak pandai menjelaskan


O, Bapak


di kehidupan ini mungkin aku akan jatuh pada sumur tak berdasar, diterjang badai, atau tersandung kerikil di tengah jalan, namun aku punya dirimu


O, Bapak


saat terjaga

kadang aku khawatir mengingat kau akan pergi dan tiada. 

Kadang aku juga takut

Kadang pula bertanya;

adakah laki-laki yang bisa mencintaiku seperti yang kau lakukan? 


dimana aku akan menemukannya;

pasar, kedai kopi, atau di sepanjang jalan?

Rabu, 13 Januari 2021

Sajak Kulacino

Sajak Kulacino

View Article

Sajak Kulacino

Oleh: Iin Zaidah


bekas air di meja akibat gelasmu yang dingin menguap begitu saja, Kekasih

diam-diam aku curiga ada sihir di matamu yang indah

iya, pada manik matamu itu kulihat lindap senja larut pada kuncup malam, gelap dan menyesatkan

beberapa detik sebelum kita berhadapan pun, aku beriktikad 

bahwa rindu hanya adjektiva yang bermakna rahasia, 

namun keyakinanku sungguh keparat

renjana menjebakku dalam kepercayaan baru

di hadapanmu, wacana tinggallah wacana

dan kecurigaan hanya taksa yang tak beralasan

Jumat, 01 Januari 2021

Let's Read

Let's Read

View Article

Menghidupkan Dongeng Melalui Cerita Bergambar

Oleh: Iin Zaidah


Dulu pada masa kanak-kanak saya, buku dongeng tidak mudah ditemukan seperti saat ini, buku cerita bergambar atau cergam seperti Majalah Bobo merupakan barang mewah yang hanya bisa dibeli oleh kalangan menengah ke atas. Karena itu saya dengan setia mendengarkan dongeng yang diceritakan nenek. 


Dongeng yang diceritakan sangat bervariasi mulai dari kisah para nabi hingga mitos yang dipercaya di kampung. Anak-anak seusia saya di kampung, mayoritas mengetahui dongeng dari mulut ke mulut, dan kabar baiknya sampai saat ini kegiatan mendongeng masih dipertahankan oleh masyarakat Indonesia.  Syukur, sekarang dongeng tidak hanya bersifat lisan akan tetapi juga hidup dalam cerita bergambar, harganya pun lebih terjangkau.


Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia dongeng merupakan cerita yang tidak benar-benar terjadi. Dilansir Encyclopaedia Britannica (2015), dongeng melibatkan unsur dan kejadian luar biasa. Biasanya itu mencakup cerita rakyat populer, seperti Malin Kundang, Gunung Tangkuban Perahu, Timun Emas dan lain sebagainya. 


Menurut Ed Yong, seorang penulis kanal ilmu pengetahuan di The Atlantic, dongeng tertulis sudah ada sejak manusia mempunyai sistem huruf dan mengenal baca-tulis. Cara penyampaian dongeng pun mengalami evolusi. Dari lisan hingga tertulis. Misalnya kisah 1.001 Malam yang setidaknya sudah berkembang di Persia sejak abad 10. Dalam “Alfu Lela Ulela: The Thousand and One Nights in Swahili-Speaking East Africa”, penulis Thomas Geider menyebut kisah 1.001 Malam berasal dari jazirah Arab tapi juga menerabas segala batasan negara maupun budaya.


Adapun yang dimaksud dengan cergam menurut Guntur (2004) adalah buku yang cukup populer di masyarakat khususnya pada kalangan remaja dan anak-anak, komik atau dengan istilah yang dikenal juga cerita bergambar (cergam) terdiri dari teks atau narasi yang berfungsi sebagai penjelasan dialog dan alur cerita”.


Musfiroh (2008: 81-97) barpendapat bahwa “cerita merupakan kebutuhan universal manusia, dari anak-anak hingga orang dewasa”, manfaat cerita bagi anak adalah: 

a. membantu pembentukan pribadi dan moral anak

b. menyalurkan kebutuhan imajinasi dan fantasi

c. memacu kemampuan verbal anak

d. merangsang minat menulis anak

e. merangsang minat baca anak

f. membuka cakrawala pengetahuan anak.


Di Indonesia dongeng dipercaya sebagai medium dan metedo transfer pengetahuan yang menyenangkan serta memiliki banyak dampak positif bagi anak. Berdasarkan pada data hasil survei yang telah dilakukan oleh penulis yang melibatkan informen era 80-an, cerita bergambar sangat baik untuk menumbuhkan minat baca dalam diri anak. Bahkan sebagian besar informen mengatakan bahwa pada hari kamis mereka lebih bersemangat umtuk pulang karena ingin segera membaca sebuah majalah anak yang terbit setiap minggu. Kebetulan di era 80-an majalah anak yang paling populer adalah Majalah Bobo.


Adapun sekarang, cergam sudah sangat bervariasi. Mulai dari dongeng Disney seperti Putri Tidur, Cinderella, The Lion King, The Junggle hingga cerita fabel seperti Kancil, Monyet Dan Kura-Kura, Burung Bulbu Terkasih, bahkan  juga ada cerita bergambar seri ilmuan muslim seperti Ibnu Sina, Umar Khayyam dsb, yang dapat dijadikan refrensi dasar anak dalam mengenal sejarah ilmuan islam.


Melalui cergam-cergam tersebut anak dapat lebih mudah memahami materi, wawasan juga bertambah luas, tingkat kreativitas dapat terasah dengan lebih baik dan tentu berpotensi besar dalam memperbaiki minat baca masyarakat Indonesia yang menurut UNESCO tercatat hanya 0,001% di masa depan.


Semoga bermanfaat!

Minggu, 13 Desember 2020

5 Alasan Kenapa Kamu Harus Memperluas Jaringan

5 Alasan Kenapa Kamu Harus Memperluas Jaringan

View Article

Sobat Ruang baca pernah nonton iklan yang menawarkan layanan unlimited nggak? Saya sangat tertarik pada cuplikan ini 




"Kini layarku sudah berkembang hingga ke pelosok negeri. Membawa kekuatan baru untuk menciptakan peluang yang mereka bilang kemustahilan. Wujudkan Indonesia maju bersama jaringan yang lebih luas dan kuat" 


Betewe jaringan yang akan saya bahas di sini bukan untuk internetan dan nelpon ya, hehe... 


Oh iya sobat Ruang baca, kalau dipikir-pikir lagi kita itu mirip-mirip internet yang membutuhkan jaringan yang luas dan kuat untuk berselancar sesuai keinginan dan kebutuhan. Coba diingat baik-baik bagaimana kekesalan kita saat jaringan yang digunakan lemotnya minta ampun. Butuh waktu lama untuk menampilkan yang kita searching. Ya kan? Selain menguji kesabaran juga tidak bisa terlalu diandalkan. 


Mari bayangkan hal yang sama terjadi pada diri kita. Posisikan diri kita sebagai jaringan yang lemot itu. Misalnya jarak yang ingin kita tempuh dengan berjalan kaki sepanjang 2 kilometer lebih. Butuh berapa waktu untuk sampai pada tujuan? Sebaliknya berapa banyak waktu yang kita butuhkan jika kita menempuhnya dengan alat transportasi? 


Tentu perjalanan yang ditempuh akan lebih cepat sampai dengan menggunakan alat transportasi baik itu motor, mobil atau angkutan umum. Yah kira-kira begitulah sobat Ruang baca. Berikut 5 manfaat memiliki banyak teman atau jaringan yang kuat. 


1. Mudah mendapat pekerjaan


Mungkin suatu waktu anda mencari pekerjaan ke sana kemari dan tidak satu pun lowongan pekerjaan yang menerima anda sebagai karyawan baru. Saat anda mulai putus harapan tiba-tiba salah seorang rekan lama anda menghubungi anda dan bercerita perihal kesulitan yang dialaminya. Ia kesulitan untuk menemukan karyawan yang kompeten. Setelah mendengarkan keluh kesah rekan anda tersebut anda bisa mengajukan diri untuk menjadi karyawan di tempatnya. 


2. Mempermudah jalan mencapai cita-cita


Untuk mencapai kehidupan yang kita mau kita harus memiliki kompetensi dan jaringan. Kompetensi sebagai senjata untuk bertahan dan jaringan sebagai alat transportasinya. Kompetensi tanpa jaringan atau sebaliknya, sangat berpengaruh pada waktu yang kita butuhkan. Sedang, lama atau bahkan lama sekali. 


Jika diperhatikan tidak jarang kita mendapati teman kelas yang semasa sekolah menjadi kebanggaan guru ternyata setelah lulus tidak menjadi apa-apa. Justru sebaliknya teman yang kesohor nakal ternyata tumbuh menjadi orang yang hebat dan meraih kesuksesannya. Kuncinya apa? Kenapa dia bisa sukses? Padahal di sekolah dia nakal dan tidak ada pintar-pintarnya. Terkadang pertanyaan-pertanyaan semacam itu muncul dengan sendirinya. 


3. Saling support


Tidak dapat dipungkiri bahwa suatu waktu kita dapat terjatuh, putus asa, merasa sangat nelangsa karena masalah keluarga, pekerjaan, atau masalah dengan atasan. Di saat demikian kesadaran untuk berbagi itu ada cuma kadang kita bingung mau berbagi pada siapa, apalagi jika anda masih sendiri. 


Berbeda jika anda punya teman. Anda bisa menceritakan masalah dan kesulitan yang anda alami tanpa merasa takut dihakimi dan diceritakan kepada orang lain. Anda tentu akan merasa lebih lega setelah mengeluarkan segala unek-unek dan anda pun akan lebih mudah menemukan jalan keluar. 


4. Dapat menumbuhkan perasaan dicintai


Perasaan merasa dicintai dapat meningkatkan kepercayaan diri seseorang. Dengan memiliki banyak teman dan dikelilingi oleh orang-orang yang menyayangi kita secara otomatis kita akan merasa berharga. Kita akan menemukan kebahagian dalam setiap candaan yang dilontarkan atau sapa rindu yang mengebu-gebu. 


5. Meningkatkan rasa percaya diri


Sebagaimana yang diulas pada poin ke empat, perasaan dicintai dapat meningkatkan kepercayaan diri. Percaya diri sendiri adalah salah satu hal positif yang mesti dimiliki setiap individu. Orang yang tidak percaya diri seringkali merasa tidak berarti. Bahkan bisa jadi saat berkumpul dengan banyak orang muncul perasaan nervous yang berlebihan. 


6. Hidup lebih hemat


Kebayang nggak? Pernah suatu ketika saya ikut teman membeli mainan anak-anak ke toko langganan. Kebetulan si pemilik toko adalah kenalan teman saya. Dari cara komunikasinya bisa disimpulkan bahwa mereka sudah lama kenal dan sangat akrab. 


Beberapa menit kami terlibat percakapan basa-basi. Tidak lama kemudian, setelah membantu memilah dan memilih barang milik teman, saya berniat membeli satu prodak di toko itu dan saya yang notabene orang asing juga mendapat potongan harga, meski tidak seberapa. Tapi yang namanya kenalan pasti diberi harga yang lebih murah dari patokan harga aslinya. 



Bravo! 

Sehabis Perdebatan

Sehabis Perdebatan

View Article

Sehabis Perdebatan




"Memang harus ada yang dinyalakan" ucapmu tiba-tiba, "gelembung harapan yang mengecil akibat samudera ketidakpastian yang membadai"


ketika itu, sejauh mata memandang hidup adalah laut lepas yang dapat menghanyutkan, kau pun getir. Menyesal telah dilahirkan sebagai manusia


"Haha goblok! Apa pun yang berkaitan dengan hidup hanya candaan! Yeah, candaan!"

Teriakku mengalahkan segala suara di kepalamu


Tapi kau tak mendengarnya. Kau putuskan mengembara. Berjalan berputar-putar dalam belantara

Rabu, 18 November 2020

Let's Write

Let's Write

View Article

 

Ilustrasi orang menulis


Beberapa kenalan saya di pesantren sangat suka menulis buku harian. Bahkan ada yang membawanya ke mana-mana. Tentu bukan tanpa alasan. Saya pribadi sampai saat ini masih suka menulis di buku harian meski sudah jarang. 


Duh! Jadi curcol begini. Oke kembali pada fokus artikel kali ini, yaitu menulis dapat menyehatkan diri. By the way, menulis buku harian adalah salah satu cara untuk memperbaiki kualitas tulisan secara dialektika kebahasaan lho. 


Sobat Ruang baca mungkin juga suka menulis sekalipun bersifat temporal. Entah saat sedih, gembira, patah hati atau bahkan saat jatuh cinta. Biasanya ketika emosional keinginan untuk menulis meningkat bagi sebagian individu. Baik menulis di buku harian atau  di sosial media. 


Kita tidak bisa mengendalikan apa yang yang terjadi dalam diri, akan tetapi untuk mengendalikan sikap sebagai respon dari stimulus yang diterima bisa kita usahakan dan pelajari. Nah cara untuk memuaskan dan mengekspresikannya ini sangat bermacam-macam, tergantung individu yang bersangkutan. 


Menulis pada hakikatnya adalah hal yang luar biasa mengasikkan. Aktivitas ini dapat meningkatkan kesehatan, baik mental mau pun fisik. Bagaimana bisa, padahal menulis adalah pekerjaan biasa, tapi kenapa hasil yang ditawarkan bisa semenarik ini? Jika boleh, saya ingin sekali berkata a magic can you get with writing.


Menulis memang tidak bisa mengubah keadaan yang terjadi, akan tetapi ia bisa mengurangi beban emosi dan pikiran. Pikiran adalah mekanisme yang dimiliki oleh setiap individu yang ibarat mata uang memiliki dua sisi. Bisa membantu manusia pada puncak kebijaksanaan, namun juga bisa menjebak manusia ke dasar penderitaan yang dibangun oleh ilusi. 


Menulis memang tidak bisa mengubah keadaan yang terjadi, akan tetapi ia bisa mengurangi beban emosi dan pikiran.


Dan yang demikian terjadi karena stimulus dari alam sadar direspond dengan baik oleh alam bawah sadar. Dengan kata lain alam bawah sadar tidak pernah berdebat dengan alam sadar, meskipun yang diproses asumsi belaka. Selanjutnya alam bawah sadar atau emosi akan terjebak dalam asumsi-asumsi. 


Baca: Cara Tepat Memanfaatkan Pikiran


Sobat Ruang baca sebelumya kita sudah membahas tentang katarsis emosi atau pembersihan sistem energi yang terkurung. Dan salah satu kegiatan yang bisa dilakukan untuk melepas emosi adalah menulis. Oleh sebab itu menulis disinyalir dapat meningkatkan kesehatan mental dan fisik. Saat pikiran terbebas dari asumsi dan ilusi maka psikis akan terbebas dari emosi-emosi negatif. 


Baca: Katarsis Emosi Kendalikan Diri


Ada pun bukti ilmiah terkait kausal menulis dapat menyehatkan diri, diperkuat oleh Pennebaker dan Seagal melalui penelitian yang keduanya lakukan pada tahun 1997. Dari kesimpulan penelitian tersebut mereka menyampaikan bahwa menulis pengalaman personal secara afektif-emosional itu dapat meningkatkan kesahatan mental dan fisik. 


Jadi, apabila kita bingung bagaimana bercerita kepada orang lain tentang suatu pengalaman yang sangat menyakitkan dan mengganggu dalam hidup, kita tidak harus memaksakan diri untuk bercerita. Tetapi, penting untuk menuliskan pengalaman itu. 


Baca: Counterfactual Thinking


Nilai pentingnya pun tidak semata untuk mengenang pengalaman yang dilalui, melainkan untuk meringankan beban pikiran dan emosi. Sebab pikiran dan emosi yang terjebak beban berkepanjangan dapat menggangu kesehatan mental. 


Let's write! 


Minggu, 15 November 2020

Katarsis Emosi

Katarsis Emosi

View Article

Tidak habis pikir sekarang sudah memasuki pertengahan November. Itu artinya 2020 akan segera berlalu, dan sebentar lagi memasuki tahun 2021. Untuk memulai tahun baru biasanya harapan dari sebagian orang adalah menjadi pribadi yang lebih baik, lebih sehat, dan bahagia. Tiga kata yang sudah menjadi mantra, sugesti, dan impian dalam pikiran dan hidup banyak orang. Tiga kata sederhana yang berkesinambungan, dan terikat satu sama lain. 


Katarsis


Mungkin teman-teman juga pernah bertanya kenapa semua orang memimpikan kindness, healthiness, and happiness. Dan bagaimana caranya agar ketiga kata kunci hidup di atas bisa diraih, sehingga kita menjadi manusia yang paling beruntung. Akhir-akhir ini memang banyak orang yang berminat mencari tahu tentang tutorial atau cara terkait banyak hal, sehingga jika Anda pergi ke toko buku, Anda akan menemui banyak buku dengan judul, seperti Seni Bahagia, Seni Hidup Minimalis, Seni Bersikap Bodo Amat, dan seni-seni yang lainnya. 


Mungkin selanjutnya Anda akan menyadari kenyataan tersebut dan mulai mempertanyakannya. Mungkin Anda juga kepikiran, kenapa bisnis motivasi dan training saat ini laku keras. Apa mungkin disebabkan oleh konsumen yang mengalami krisis motivasi atau bahkan krisis jati diri. Sebagai bahan pertimbangan, biasanya para produsen memperhatikan pangsa pasar dan menciptakan sesuatu yang menjadi kebutuhan para konsumen. 


Nah pertanyaannya, adakah tutorial eksak untuk mencapai kebahagiaan yang berlaku sepanjang hidup? Yang apabila mempraktikkannya Anda hanya akan bahagia dan lepas dari segala jenis penderitaan? 


Mungkin saja jawabannya adalah mustahil. Sebab diakui atau tidak Saya dan Anda sekalian pasti sedang atau akan berada dalam suatu masalah, atau tekanan dari keluarga, pasangan, teman atau bahkan diri sendiri. Sesekali kita butuh motivasi, namun dalam hal ini yang paling dibutuhkan adalah control diri, sikap. Kesimpulannya, kita perlu belajar mengatasi masalah dan tekanan yang tiada habisnya. 


Menurut Hurlock ketika emosi timbul pada individu terdapat energi fisik yang disiapkan untuk bertindak. Apabila energi fisik tersebut tidak dilepaskan keseimbangan tubuh akan terganggu. Demikian pula halnya, apabila keadaan mental yang menyertai emosi tidak ditangani secara tepat dapat menimbulkan sikap yang tidak menyenangkan sehingga penyesuaian pribadi dan sosial kurang baik. 


Maka oleh sebab itu, kita perlu melakukan pembersihan sistem energi yang terkurung agar ekspresi emosi dapat dikendalikan. Dalam ilmu psikologi hal tersebut dikenal sebagai katarsis emosi. Katarsis adalah salah satu teknik untuk menyalurkan emosi yang terpendam, atau pelepasan kecemasan dan ketegangan yang ada dalam diri individu. Istilah katarsis sendiri dipopulerkan oleh seorang pelopor psikoanalisa, Sigmund Freud. Meski katarsis emosi belum tentu menghilangkan beban yang menjadi sebab luapan emosi, akan tetapi setidaknya dapat mengurangi beban akibat gejolak emosi. 


Untuk melakukan katarsis Anda perlu mencari cara untuk mengekspresikannya. Beberapa orang memilih menangis, tertawa, bernyanyi, menulis, bahkan berbicara sendiri. Namun jika Anda termasuk orang yang serius Anda bisa menyibukkan diri dengan kegiatan yang positif, bekerja, bermain bola atau berbagi cerita kepada orang terpercaya. 


Bravo! 



Minggu, 08 November 2020

Perempuan Bercerita

Perempuan Bercerita

View Article

 Perempuan Bercerita

Oleh: Iin Zaidah

Nyala api terlihat tak sabar untuk menjilat setiap senti dari molek tubuhku. Sebagaimana para lelaki jalang menatap tak sabar padaku. Kadang-kadang, mereka lebih pantas disebut predator paling berbahaya dan mematikan daripada disebut manusia. Kelakuannya yang suka mencari jajanan di luar rumah, sungguh menjijikkan. 

Perempuan bercerita

Senja hari ini perlahan karam di tepi garis laut yang jauh. Mungkin di sana para leluhur manusia setia menunggu abuku. Setelah kuakhiri hidupku mungkin aku akan masuk ke dalam daftar nama kesekian yang dilupakan. Tapi memang sebaiknya seperti itu. Daripada dikenang sebagai pemuas lelaki hidung belang, atau sebagai tetangga yang tidak punya etiket dalam bersosial.

 

Kini biarlah jasadku bermukim di semesta. Merasakan kesendirian tanpa kawan. Tak apa, kukira aku sudah cukup begini. Yang kurasakan diriku mengawang-awang. Tidak tahu seperti apa bentuknya, tapi aku bahagia. Sebab aku telah lepas, bebas dari jasad yang mengurungku. Jasad kotor yang telah digriyangi puluhan atau bahkan ratusan tangan lelaki, yang bahkan namanya saja tak aku tahu. 


Dalam peraturan lacur kelas atas kami dilarang bertanya nama pelanggan, karena dianggap tidak sopan. Sebagian besar kami tidak peduli selama yang datang adalah lelaki berkantong tebal. Tidak ada waktu untuk bertukar nama, apalagi basa-basi mengenalkan identitas satu sama lain. Sebisa mungkin transaksi diselesaikan dalam waktu yang cepat. Pelangganku menyelesaikan administrasi dan aku berikan jasa sesuai harapan mereka. Setelah itu, jika malam masih panjang aku masih bisa menerima beberapa tamu. 


***


Kurasa hidupku sudah tidak ada bedanya dengan kawanan kelelawar. Waktu seratus delapan puluh derajat terbalik. Setiap malam aku habiskan waktu di tempat dan suasana yang sama. Dentum musik yang keras mengisi setiap sudut ruang. Kerlap-kerlip lampu disko yang memusingkan kepala dan bau alkohol yang menguar dari setiap mulut pengunjung. 


Tempat orang berpesta dan melupakan carut-marut kehidupan keluarga, politik, ekonomi hingga asmara. Meski mungkin setelahnya, beban yang sama masih mengekor dan nyata ada. Tidak sedikitpun berkurang. Tidak setelah ia keluarkan beberapa lembar uang untuk meneguk beberapa botol minuman. Kesenangan tak ubahnya dunia. Dan kehidupan adalah asal-muasal masalah. Masalahnya, aku terlahir cantik. 


Aku tidak terlalu peduli pada urusan negara, namun tak jarang aku menghabiskan waktu siang di depan televisi. Untuk sekadar melihat berita harian. Ada begitu banyak penayangan mengenai penemuan bayi dengan perut atau plasenta yang berjuntai, bahkan ada pula yang melilit di leher. Menyedihkan sekali, menyadari betapa bobroknya kemanusiaan. Kadang aku berpikir bahwa setiap perempuan adalah lacur dalam satu atau lain bentuk. 


Dan dari sekian daftar yang berderet rapi di kepalaku, lacur kelas paling bawah adalah mereka yang melayani kekasihnya. Padahal masih dalam status pacar dan tidak lebih. Mereka melepas kehormatan dan harga dirinya dengan cuma-cuma. Atau mungkin karena iming-iming agar tidak diputus dan dicampakkan. Tanpa sadar bahwa itu adalah perpisahan yang tertunda. Aku sendiri memilih menjadi lacur yang bebas dan highclass. Tidak peduli bagaimana pandangan orang mengenai diriku. Kukira pekerjaan ini ada karena para lelaki. 


"Kau tampak lebih cantik dalam gaun gelap ini" puji seorang pelanggan setiaku. 


Aku tak sedikitpun tertarik melanjutkan omong kosong itu, jadi aku putuskan untuk menggodanya. Kurebahkan tubuhku ke kasur. Kubiarkan ujung gaunku tersingkap. Memperlihatkan bagian yang tertutup. Kutatap matanya jalang, sambil lalu menggigit jari dan membiarkan bibir yang merekah sedikit terbuka. "Apa kau merasa tergoda?"


"Malam ini kau sangat sempurna. Sungguh!" pujinya lagi. Membuatku sedikit melayang. 


Langkahnya mendekat. Lalu ia duduk di sampingku yang rebahan dalam pose yang sama. "Sebenarnya aku tak ingin segera menyelesaikan transaksi ini," ucapnya dengan kepala tertunduk. 


Dan diam-diam aku merasakan hal yang sama. Biar pun aku tidak kenal dirinya. Tidak tahu namanya. Tidak tahu keluarganya, namun aku telah menghabiskan beberapa malam dengannya. Kulitnya halus seperti bayi. Matanya indah, membuatku hanyut saat bercinta. Hidungnya yang mancung rasanya lebih mudah untuk menggapai ujung hidungku. Hanya dengan dia aku melibatkan perasaan saat bercinta. 


"Tapi aku tahu, kau tak cukup kaya untuk membeli seluruh waktuku, bukan?" Pertanyaan yang kulontarkan setiap ada pelanggan yang berniat memilikiku. 


Tak ada jawaban. Ia membiarkan pertanyaanku tergantung di udara. Setelah beberapa saat dalam diam, aku pusatkan perhatian pada gerak-geriknya yang gelisah. Berusaha menangkap apa yang ada dalam pikirannya. Namun kemudian ia bediri dan menarikku. Membawaku ke depan cermin, sehingga pada pantulannya aku melihat penyatuan antara aku dan dia. Dia memelukku dari belakang. Menenggelamkan kepalanya di pundakku. Dan mungkin saja ia larut pada aroma tubuhku. 


"Can you dance with me?" Ini adalah ajakan pertama setelah aku hidup melacur. 


***


"Aku akan menikah, "


*Kau akan menikah? Itu kabar bahagia."


Tapi dia sama sekali tidak menunjukkan raut bahagia. Dia hanya mengaduk-aduk makanannya. Dan sepertinya telah kehilangan selera untuk menyantapnya. "Ayo kita rayakan!" ajakku sambil mengelus punggung tangannya. 


"Ayolah! Minimal kita menghabiskan malam ini dengan hal-hal yang mustahil dilupakan," rajukku. 


Dan akhirnya dia mengikuti kemauanku. Barangkali aku tidak pernah sebergairah itu. Aku tidak bisa menikahinya namun di lain sisi aku tak ingin dilupakan olehnya. Jadi inilah satu-satunya cara untuk memilikinya; membuatnya tenggelam ke dasar bagian dalam diriku. 


Sayang sekali, itu adalah kali terakhir aku menghabiskan waktu dengan dirinya. Diam-diam aku rindu. Aku mulai kehilangan gairah untuk melayani para pelanggan yang datang, dan bahkan mulai jarang mangkal. Sampai sebagian pelangganku menemuiku ke rumah. 


"Aku lama tidak melihatmu" ucapnya setelah cukup lama membisu. 


"Akhir-akhir ini aku sakit," kilahku. 


"Kalau begitu aku pamit, lekaslah sembuh,"


Aku bersyukur, orang itu akhirnya pergi. Meninggalkanku bergelayut kembali dengan sepi yang sunyi. Berhari-hari aku memikirkan cara agar si dia bisa kembali, menemui diriku dan bercinta. Tapi apa yang bisa aku lakukan setelah aku menolaknya? 


Setelah cukup lama mengurung diri di rumah aku pun memutuskan untuk kembali bekerja. 


***


Mendadak pikiran gila ini muncul dalam pikiranku yang buntu. Oh, malangnya nasib lelaki di hadapanku ini. Tapi apa peduliku? Ibarat singa aku adalah singa betina yang terluka. Jadi tak apa, aku akan tetap melakukannya. Lagi pula tidak ada yang perlu aku risaukan setelah kematian. 


"Apa kau pernah berpikir untuk mati?" tanyaku mencari tahu. 


"Aku hidup untuk bersenang-senang, bukan untuk mati," jawabanya sarkastik.


"Ah, kau pasti sangat gemar hidup," lanjutku sedikit menyudutkan. 


Hening. 


"Katakan padaku, apa masih ada siksaan bagi calon jasad molek begini?"


"Apa kau merasa akan segera tiada?" tanyanya terkejut. 

"Aku sedang merencanakannya," jawabku lugas. 


"Sayang, jangan bermain-main dengan kematian," ujarnya sambil menarik diriku ke dalam pangkuannya. 


"Tidak, tidak. Justru aku ingin diriku sendiri yang menghabisiku. Bukan kematian."


"Syuttt..." 


"Aku ingin kita melakukannya dua belas jam penuh tanpa jeda."


Tanpa bersusah payah dia menyetujui bujukanku. Kemudian kami tenggelam dalam percintaan juga rencana-rencanaku. 


***


Seorang pendeta memimpin para pelayat dalam prosesi upacara. Di antara kerumunan orang-orang, dia memejamkan mata dan hanyut dalam mantra. Mungkinkah dia merasa kehilangan? Entahlah, yang pasti aku akan segera moksa. Dan aku akan lepas dari segala ikatan dunia. Terberkatilah semua orang yang dikira telah mati. Kulihat jasadku tergelatak cadas. Sendiri, abai, dan pasrah. 


Kuperhatikan tubuh yang membujur kaku. Rupanya dalam keadaan beku sekalipun, aku nampak cantik. Dengan bunga melati menutupi lubang hidung yang sempit. Pecahan kaca bertabur di atas mata, dan daun intaran menghiasi alis. Pantas saja sulit bagiku untuk lepas dari kutukan-kutukan ini. Semoga simbol-simbol itu tidak membangkitkan diriku kembali. Sebab sebentar lagi aku akan benar-benar moksa. Meninggalkan beban derita. 


Matahari telah tenggelam sepenuhnya.  Angin pantai meniup habis nyala api yang melalapku. Menyisakan abu kayu yang melebur dengan tulang-tulangku. 


Senin, 02 November 2020

Pukul Dua Belas Lewat Dua Puluh Menit

Pukul Dua Belas Lewat Dua Puluh Menit

View Article


     

Pukul Dua Belas Lewat Dua Puluh Menit     


                                         bagi: Asqa


Pukul dua belas lewat dua puluh menit, 

beratus kilo meter di samping kamarmu, 

mungkin aku telah rebah sebagaimana tanah

Tiada tahu bahwa semalam kau dalam beban pikiran. 


Kudengar, 

serak suaramu beradu dengan bunyi serangga


Hening. 

Malam sudah dalam

Ah, bagaimana aku mendakwamu atas kesalahan yang tak kau lakukan? 


Perlu kau tahu, aku menunggu tanpa batas waktu, maka apabila lelah, kau bisa sandarkan penatmu walau sebentar


Memang, 

kadang-kadang tempias waktu menghujankan jarum

Kehidupan menjadi badai pasir yang sanggup menelan apa pun


Jadi, biarkan segala yang menghimpit dada

Barangkali dengan itu kita tumbuh menjadi karang dilaut-Nya


Madura, 2020

Senin, 26 Oktober 2020

Saringan Tiga Lapis Ala Socrates

Saringan Tiga Lapis Ala Socrates

View Article

Saringan Tiga Lapis Ala Socrates


 Yups! Kali ini kita akan belajar tentang Saringan Tiga Lapis Ala Socrates. Artikel ini untuk mempertajam sikap kritis kita dalam menerima informasi atau berita. Agar tidak lagi termakan kabar bohong, lebih-lebih di masa pandemi ini. 


Orang mencari kebenaran

Dan lebih daripada itu, menjadi makhluk sosial yang dikenal sebagai individu yang menyenangkan juga bisa diusahakan dengan mempelajari dan mempraktikkan teori Socrates ini lho! Kok bisa? 


Sekadar informasi, kebanyakan orang awam membicarakan kejelekan orang lain tanpa tahu benar apa yang sebenarnya terjadi. Nah, bagaimana mau disukai rekan, tetangga, dan kerabat jika suka ngegosip! Kebenarannya juga gak jelas. Fix! Pekerjaan unfaedah


Agar, terhindar dari perbuatan yang sia-sia maka kita perlu tahu cara untuk mengantisipasi. Ibarat pepatah, sedia payung sebelum hujan. Hehe


Kembali pada fokus utama, mungkin bagi kalian yang suka filsafat kisah ini tidak lagi asing ya. Jadi, suatu hari Socrates, seorang filsuf yang masyhur karena pengetahuan dan kebijaksanaannya yang tinggi, bertemu dengan seorang pria. 


Pria tersebut hendak menceritakan kabar yang ia peroleh mengenai teman Socrates tersebut. Namun Socrates yang bijaksana menahan pria tersebut untuk langsung bercerita dan meminta sedikit waktu untuk memberikan tiga ujian kepada pria tersebut. 


"Apa itu?" Tanya si pria penasaran. "Ujian tiga saringan" jawab filsuf itu bijak. "Baiklah, katakan, apa saja?" lanjut si pria. 


1. KEBENARAN


"Apakah kabar yang Anda bawa untuk Saya sudah pasti benar?" kata Socrates mengajukan pertanyaan pertama. Namun, pria tersebut mengaku bahwa ia baru mendapat berita tersebut dan tidak tahu kebenaran yang sesungguhnya. 


"Baiklah, mungkin Anda bisa melalui ujian saringan yang kedua, jika tidak bisa pada ujian saringan pertama," ucap Socrates pada si pria. Dan pria tersebut setuju pada apa yang dikatakan filsuf di hadapannya. 


Ingat, sebelum membagikan informasi pastikan dulu valid tidaknya informasi


2. KEBAIKAN


"Apakah kabar yang hendak Anda katakan kepada Saya adalah baik?" lanjut Socrates. Namun jawaban pria tersebut juga tidak memuaskan sama sekali. 


Kabar yang hendak disampaikan pada Socrates justru mengenai keburukan temannya dan itu tidak valid. Akan tetapi meskipun begitu, Socrates dengan sabar tetap melanjutkan ujian tiga saringan yang diajukan kepada pria pembawa berita tersebut. 


Lakukan cek & ricek. Apa substansi informasinya, good or bad


3. KEGUNAAN


"Apakah kabar mengenai teman Saya yang ingin Anda sampaikan pada saya itu berguna untuk Saya?" Pertanyaan terakhir untuk si pria pun disampaikan. 


"Sebenarnya berita ini sungguh tidak mendatangkan manfaat untukmu," jawab pria itu. 


Kemudian Socrates menyimpulkan, "kalau begitu jika apa yang ingin Anda sampaikan kepada Saya tidak benar, tidak pula baik, bahkan tidak berguna buat Saya. Kenapa Anda ingin menceritakannya kepada Saya?"


Sebaiknya jangan buang waktu dan tenaga untuk sesuatu yang tidak berguna


Nah sobat Ruang Baca, bagaimana? Apa kalian tertarik mencoba Saringan Tiga Lapis Ala Socrates? Sekali-kali gakpapa dong hidup ala filsuf gitu, hihi... 


Ya sudah dulu, author masih ada Kelas Puisi Online. Sampai jumpa lagi. Bye bye... 


Baca juga: Pentingnya Jurnalisme


 

Sabtu, 24 Oktober 2020

Counterfactual Thinking

Counterfactual Thinking

View Article

Mengenal Counterfactual Thinking


 Kak, aku tuh kadang suka memutar ulang peristiwa di masa lalu tapi cenderung seperti orang menyesal dibanding tidak bisa move on. Aku kenapa ya kak? 


Counterfactual thinking


Hallo sobat Ruang Baca, how are you? My hope you are stay healty. Oke, kalian sudah melakukan kebaikan apa hari ini? Bukan untuk orang lain, tapi bagi dirimu sendiri. Lho, lho... kok bisa? Bisa dong, butuh penjelasan? Mari kita rinci bersama. 


Seperti mata rantai makanan, hidup manusia pun begitu. Contoh kecilnya, untuk mengisi gelas yang kosong, botol harus memiliki isi. Maksudnya, untuk bisa membantu orang lain kalian harus membantu diri kalian sendiri terlebih dahulu. Help your self to help other. Ya bagaimana membantu dan membahagiakan orang lain sedang membantu dan membahagiakan diri sendiri saja tidak mampu?


Jadi kebaikan apa yang sudah kalian berikan pada dirimu sendiri? Sudah ketemu nggak jawabannya? Belum? Biar kakak bantu. Your kindness for yourself is you know that your mind is wrong. Dan kalian ingin memperbaikinya. Kesadaran inilah yang dapat mengantarkanmu menjadi individu yang lebih baik dan bahagia. 


By the way, di dalam ilmu psikologi kebiasaan untuk memutar ulang kejadian masa lalu di dalam kepala dengan skenario berbeda disebut counterfactual thinking. Dalam kondisi tersebut kalian berpikir 'seandainya' yang terjadi adalah hal yang berbeda, dan bukan hal yang benar-benar sudah terjadi. 


Misal, seandainya dua puluh tahun yang lalu aku lebih mengerjakan banyak hal ketimbang yang tidak dikerjakan, pasti sekarang aku bahagia dan bebas dari penyesalan ini. Seandainya di bangku sekolah aku giat belajar, pasti aku tidak akan mengalami kesulitan setelah memutuskan masuk Perguruan Tinggi. Seandainya dulu aku tidak memaksakan kehendak dan mengikuti saran orang tua, pasti aku akan memiliki keluarga yang bahagia. 


Keadaan dimana kalian berandai-andai atau surprisingly itu normal dialami oleh individu. Hanya saja menyesali sesuatu dengan berlebihan tidak akan mendatangkan manfaat, justru akan menjadi masalah bagi kehidupan di masa mendatang. So, kita harus bijak menyikapinya ya, sobat ruang baca. Jangan sampai terjebak dalam penyesalan. 


Adapun sifat counterfactual thinking itu netral. Sikap kita yang membuatnya berdampak positif dan negatif. Sebab selain bisa menjebak kita dalam khayalan, counterfactual thinking juga bisa membuat kita lebih bisa memaknai hidup dan bersyukur, serta kita bisa belajar memperbaiki diri dari kesalahan di masa lalu. Dan itu artinya kondisi surprisingly tidak benar-benar buruk. 


"Banyak hal sederhana yang seringkali diperumit sama pikiran kita sendiri" _Marchella FP. NKCTHI


Wah... jangan sampai hidup kita diperumit oleh pikiran kita sendiri sobat! Untuk itu kalian harus tahu bagaimana cara memaksimalkan mekanisme pikiran. Kunjungi link di bawah ini ya. Hehe


Baca juga: Cara Tepat Memanfaatkan Pikiran


Selamat membangun self confidence! 










 






Minggu, 18 Oktober 2020

Untuk Apa Para Ibu Melahirkan Kehidupan

Untuk Apa Para Ibu Melahirkan Kehidupan

View Article

Resah


Untuk apa para ibu melahirkan kehidupan? 


Sar, dunia sedang di resahkan wabah

tapi kau jangan

Sebab perjalanan belumlah selesai

Lupakan segala yang menghimpit dada

Kematian hanya akan menjemput yang tiba

Apa kau pikir dengan ketakutan semua kembali baik-baik saja? 

Jangan naif, 

agama telah mengajarkan bagaimana takdir bekerja

Kita memiliki Kitab Kejadian masing-masing

Lalu apalagi yang mesti di risaukan? 

Kerisauan hanya akan membunuh jiwa perlahan

Jika tiada, akan kau isi apa soal pertanggungjawaban

Aku sendiri sering merasa malu kepada Tuhan

Karena begitu sedikit yang dikerjakan

Setelah begitu banyak menerima pemberian

Apa kau tiada pernah merasa? 

Jika iya, pulanglah! 

Tanyakan, untuk apa para ibu melahirkan kehidupan? 

Hindari Lima Hal Ketika Bergurau

Hindari Lima Hal Ketika Bergurau

View Article

Baru-baru ini seorang teman bercerita tentang pengalaman tidak nyaman yang menimpa dirinya. Dia bercerita panjang tentang kemarahannya terhadap teman-tamannya yang bergurau diluar batas. 


Menurut keterangannya peristiwa tersebut dia ketahui setelah mendapat pesan dari salah satu kerabatnya. Yang kemudian keterangan lebih jelas dia peroleh dari temannya yang lain.


Nah! Agar sahabat Ruang Baca bisa Bijak dalam bergurau dengan orang lain sebaiknya Hindari Gurauan yang Berkenaan dengan Lima Hal berikut;


1. Nama Baik Seseorang


Ilustrasi orang diskusi


Jika sedikit saja kita memperhatikan perguliran kasus yang menimpa seorang terdakwa hingga akhirnya ditetapkan sebagai tersangka, sebagian gugatan yang dilayangkan oleh pendakwa kepada hukum adalah perihal pencemaran nama baik. 


Betapa rentannya kasus ini, salah bicara sedikit saja bisa menjebloskan kita ke dalam penjara. Kenapa kita mesti menjaga nama baik orang lain? Coba kita posisikan diri kita sebagai korban pencemaran nama baik. Apa yang akan kita lakukan? Diam saat sebenarnya nama baik kita dipermainkan oleh pihak yang tidak bertanggungjawab?


Kadang-kadang, beberapa orang suka bergurau, dan itu wajar. Akan tetapi akan berbahaya jika bergurau dengan berlebihan. Bukankah setiap kita berpuasa selama sebulan dalam rentang waktu setahun? 


Seharusnya kita mengerti bahwa di dalam puasa atau pekerjaan apa pun itu, substansi yang terpenting adalah kesadaran tentang batas. Bahkan saat ini, komedian saja sangat berhati-hati dalam memilih bahan gurauan, nah kita yang bukan siapa-siapa, kenapa justru malah terkesan abai? 


Jumat, 16 Oktober 2020

Risalah Hati

Risalah Hati

View Article


Risalah hati


Risalah Hati


Hatiku selembar daun yang jatuh pada musim gugur;


Biarkan sebentar aku rebahan di halamanmu


Sebelum angin menerbangkanku


Atau sapu menyeret paksa tubuhku 


Bila aku pergi


Akan aku ingat hangat pelukmu dan luas kasihmu


Menjaganya hingga purba


Lapuk menjadi abu.

Kamis, 15 Oktober 2020

Manfaat Tersenyum

Manfaat Tersenyum

View Article
 Sahabat Ruang baca sudah senyumkah hari ini? Jangan sampai lupa ya, karena selain membuat mood kacau dampaknya juga merembet pada proses peremajaan kulit wajah. Mau cepet tua? Hehe, just kidding! 


Ngomong-ngomong sudah beberapa hari terakhir penulis tidak membagikan artikel di blog ini. So, edisi kali ini, tentang Mengenal Tiga Manfaat Tersenyum khusus ditulis untuk memotivasi sahabat Ruangbaca, dan sebagai bahan refleksi bagi penulis agar lebih semangat senyumnya. 


Tapi jangan sampai berlebihan, soalnya yang berlebih-lebihan seringkali tidak berakhir dengan baik. 


Mengetahui manfaat seyum


Capa-capanya cukup dulu. Langsung saja, cekidot! 


Mengutip laman Wikipedia, dijelaskan bahwa dalam fisiologi, senyum adalah ekspresi wajah yang terjadi akibat bergeraknya atau timbulnya suatu gerakan di bibir atau kedua ujungnya, atau pula di sekitar mata. Kebanyakan orang senyum untuk menampilkan kebahagiaan dan rasa senang.


Umumnya orang tersenyum karena perasaan bahagia. Namun senyum juga bisa disebabkan oleh kesengajaan karena ada sesuatu yang membuat kita tersenyum. Coba kalian perhatikan, orang yang tersenyum tidak hanya menjadi lebih cantik, tapi juga enak dipandang mata. Kesannya sangat adem sobat. 


Selain menambah kesan yang baik, senyum bisa menambah nilai ibadah lhoo. Kok bisa? Sebab, tersenyum di hadapan saudaramu adalah shadaqah. Hayoo.. mulai sekarang rajin rajinlah tersenyum. Hihi... 


Nah! Ini dia alasan alasan kenapa kita perlu tersenyum. Mari simak bersama apa saja poin-poinnya. 


1. Mengurangi Stress



Biasanya saat stres kita cenderung berwajah masam, kusut, dan garis bibir apabila tidak ditarik ke bawah pasti datar. Menambah kesan badmood atau mood buruk. 


Senyum menjadi hal paling tidak terpikirkan saat suasana hati buruk, entah karena patah hati, kecewa, atau karena ada konflik dengan pasangan dan atau keluarga. 


Untuk membuktikan bahwa senyum bisa mengurangi stres, sahabat Ruangbaca bisa mempraktikkannya ketika dalam masalah atau saat sedih. Tidak perlu mempermasalahkan tulus tidaknya. Lakukan saja. Perasaan lebih baik akan datang dengan sendirinya. Kok bisa? 


Ya bisa lah! Karena gerak tubuh bisa menipu alam sadar. Gerak tubuh yang positif akan mengirimkan sinyal-sinyal positif ke alam sadar yang kemudian diterima oleh alam bawah sadar. 


Baca juga: Cara Tepat Menggunakan Pikiran


2. Memperbaiki mood



Bangun pagi, tapi mood sudah buruk. Kan gak lucu ya, memulai hari dengan suasana hati yang tidak menyenangkan. Pasti kesannya hari yang dialami sangat panjang dan berat untuk dilalui. 


Sahabat Ruangbaca pernah mengalaminya? Jika iya lakukan ini: pikirkan seolah segalanya baik-baik saja, tidak ada masalah yang perlu dipikirkan dan, tersenyumlah! 


Lakukan juga saat sedih. Bukan tidak mungkin suasana hati atau mood akan membaik. Kenapa? Alasan yang sama terpapar jelas pada poin pertama. 


Baca juga: Menjadi Single Bahagia


 3. Hidup lebih bahagia



Dengan senyum pula hidup akan lebih bahagia, karena stres berkurang, dan susana hati atau mood baikan. Hidup menjadi tenang dan lebih bahagia. Pikiran negatif terminimalisir dan pikiran-pikiran positif menjadi lebih kuat memancar pada aura tubuh kita. 


Karena, pada dasarnya yang membuat kita tidak bahagia, cemas, dan sedih bukan karena peristiwa yang kita alami, melainkan pikiran kita yang tidak terkendali. Adapun setiap hal pada dasarnya netral ya sobat Ruangbaca. 


Baca juga: Membangun Rasa Percaya Diri Dengan 5 Langkah Sederhana


Terlepas dari ulasan di atas, sobat Ruangbaca tentu lebih kenal dan lebih tahu tindakan apa yang mesti dilakukan untuk mencapai kesempurnaan hidup, ketenangan jiwa. Artikel ini ditulis murni untuk berbagi. Serta sebagai bahan pertimbangan untuk ke depannya. Dan semoga bermanfaat! 






.






 







Rutinitas

Rutinitas

View Article


Rutinitas


Rutinitas


Kutitip harapan pada hujan-hujan, terbang bersama rinai, dipeluk angin


Sebab tak kumiliki tujuan, langkah yang membawa kaki pergi


Kucari kotamu tapi tak ada di peta, 


Wahai, 


Adalah kau puisi paling sunyi yang kutulis pada aksara tak bermuara


Hatiku terjebak pada satu tempat tak bernama, mencintai bayangmu berulang-ulang


Adakah kebodohan lebih dari ini?  

Pentingnya jurnalisme

Pentingnya jurnalisme

View Article


Pentingnya Jurnalisme

 

Situasi negara saat ini memicu pertanyaan bagaimana masa depan negara dan bangsa Indonesia? Kebijakan yang diputuskan para atasan justru mengundang kontradiksi, demonstrasi, dan ketidakpercayaan rakyat. 


Pentingnya jurnalisme


Mirisnya ada oknom-oknom tidak bertanggungjawab yang memanfaatkan situasi yang terjadi. Penyampaian aspirasi yang awalnya berlangsung damai menjadi ricuh bahkan sampai terjadi tindakan anarkis yang meresahkan rakyat dan merugikan negara. 


Praktik yang biasa digunakan untuk membuat kekacauan oleh pihak yang berkepentingan adalah dengan menyebarkan berita bohong (hoax). Ibarat api, berita bohong bisa merambat dalam waktu yang singkat dan cepat. Sebegitu bahayanya ya sahabat Ruangbaca. 


Maka tidak berlebihan apabila orang yang terbukti telah menyebarkan berita bohong akan disanksi oleh negara. Sebab dampaknya sangat meresahkan dan berpotensi mengacaukan persatuan yang ditanam oleh para founding father kita ya. Selebihnya bisa dicari di artikel artikel website sebelah deh! Soalnya penulis tidak berniat membahas ini. Penasaran? Joom, simak! 


Untuk apa jurnalisme? 


Tujuan utama dari jurnalisme adalah untuk menyediakan informasi yang dibutuhkan warga agar mereka bisa hidup bebas dan mengatur diri sendiri. Maksudnya gimana nih kak?


 Biar mudah dipahami penulis kasih gambaran kecil dah. Begini, manusia tidak tahu apa yang berada di balik gunung, atau warga tidak tahu besok, lusa atau kapan pun itu akan terjadi bencana baik tsunami, banjir, gempa bumi, atau longsor. Dengan ketidaktahuan tersebut bagaimana manusia akan hidup tenang, sedangkan bencana bisa datang kapan saja? Oleh karena itu manusia butuh informasi. 


Lalu kenapa manusia membutuhkan berita? 


Ya karena adanya naluri dasar atau biasa disebut naluri kesadaran. Maksudnya mereka sadar keadaan yang tidak pasti dan ancaman-ancaman bahaya dari luar itu harus diantisipasi. Oleh sebab itu, mereka butuh informasi untuk mempersiapkan diri apabila suatu waktu bahaya datang mengancam. 


Maka akan sangat krudensial apabila jurnalistik mengabaikan validitas berita. Sayangnya, adanya ponsel pintar dan sosial media yang bisa diakses oleh umum mempermudah oknom-oknom untuk menyebarkan berita bohong. Kenyataan ini mau tidak mau sudah menjamur dalam kehidupan sehari-hari. Bagaimana cara meredamnya? 


Pertama, harus ada sikap skeptis. Tidak mudah menerima informasi atau berita yang beredar. Ini penting untuk dipraktikkan oleh setiap individu, mengingat intensitas dan mudahnya penggunaan sosial media. 


Kedua, harus pandai dalam memanfaatkan media. Jangan sampai yang kita lakukan justru merugikan diri dan khalayak umum. Terkahir, harus pandai memilah dan memilih berita. Jadi jika mendapat berita pastikan dulu kebenarannya. Jangan asal bagi-bagi. 


Untuk sementara itu dulu ya, kita lanjutkan nanti dalam pembahasan selanjutnya. 


Selamat Mencoba!